Dosen Vokasi Teknik Mesin STTNAS Memberikan Kuliah tamu di ITP Padang

Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Padang (ITP) menyelenggarakan kuliah tamu yang merupakan agenda  rutin setiap tahunnya. Kali ini mengundang salah satu dosen STTNAS Yogyakarta untuk menyampaikan kuliah “Proses Manufaktur II dan Teknologi Hidrogen (fuel cell) yaitu Subardi, S.T., M.T., Ph.D (Dosen Vokasi Teknik Mesin STTNAS).

Kuliah tamu telah terselenggara pada tanggal 26 April 2018 bertepat di Aula kampus ITP diikuti oleh mahasiswa teknik mesin yang berlangsung pukul 08.30-12.30 wib. Dalam kesempatan tersebut hadir pula Pembantu Rektor II Ade Indra, S.T., M.T., dan Kaprodi Teknik Mesin S1 Masdaryanto, S.T., M.Eng serta Iwan Fahmi, S.T., M.T. selaku pengampu mata kuliah Proses Manufaktur II.

Dalam salah satu pemaparannya, Subardi, S.T., M.T., Ph.D menyatakan bahwa teknologi fuel cell merupakan solusi dalam penyediaan energi listrik dimasa depan. Mengapa fuel cell, karena teknologi ini sangat ramah lingkungan dimana proses akhir dari elektrokimia adalah H2O atau uap panas. Disamping dapat memangkas emisi gas buang, fel cell memiliki tingkat efisiensi yang menjanjikan bahkan sampai 70-80% khususnya Solid Oxid fuel Cell (SOFC). Amerika telah menerapkan kebijakan secara bertahap program aplikasi teknologi fuel cell salah satunya adalah  Bloom Energy”. Secara umum teknologi fuel cell dapat diaplikasikan secara luas seperti transportasi, perumahan, peralatan elektronik, bahkan peralatan militer. Hal yang sama, negara-negara di Eropa melalui blue printnya menjadikan  teknologi hidrogen sebagai alternatif utama penggunaan energi listrik dimasa mendatang yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Bagi Indonesia teknologi fuel cell yang salah satunya adalah Solid Oxid fuel Cell (SOFC) masih termasuk baru dan riset dibidang ini masih minim. Disisi lain belum ditunjang dengan adanya kebijakan pemerintah RI dibidang pengembangan energi baru terbarukan (EBT) khususnya teknologi hydrogen. Dilihat dari kebijakan pemerintah dibidang pengembangan energi nasional khususnya teknologi hidrogen masih minim. Sebagai contoh sampai tahun 2025 pengembangan dan aplikasi teknologi hidrogen masih 0,% yang berarti menjadi tantangan besar bagi DPR dan pemerintah untuk memberikan perhatian besar melalui skenario pengembangan teknologi fuel cell.

Figure. Schematic diagram of SOFC operation

Menurut Subardi idealnya di Indonesia didirikan departemen/prodi teknologi hidrogen (fuel cell) di berbagai perguruan tinggi sebagaimana telah dilakukan oleh perguruan tinggi di luar negeri. Dalam intoduction-nya,  Subardi menganjurkan pemerintah RI untuk mendorong dosen/peneliti untuk mengambil bidang riset teknologi hidrogen di luar negeri.

Diakhir wawancara dengan pewarta STTNAS , Subardi menambahkan dosen-dosen yang dikirim untuk riset teknologi hidrogen ke luar negeri itu dapat berasal dari berbagi jurusan seperti  teknik material, teknik mesin, teknik kimia, teknik fisika material, dan teknik  elektro.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *